Jumat, 13 Maret 2009

Dear Mama...

Assalamu’alikum.
Ma, bagaimana kabar di sana? Adik masih sering sakit? Gimana papa di kantor barunya? Ogik di sini hanya bisa berdo’a agar mama dan kelurga di sana selalu dalam perlindungan allah SWT. Amin. Ogik nulis surat bukannya karena kehabisan duit untuk beli pulsa, walaupun sebenarnya pulsa memang lagi kritis, dan bukan pula karena HP digadaikan. Ogik rasa kalo lewat surat semua unek-unek akan lebih lancar untuk disampaikan dibanding lewat sms ato nelpon.
Ada kabar baik dan kabar kurang baik untuk mama. Kabar baiknya keadaan Ogik di sini baik-baik saja. Ogik masih makan teratur, tidur masih dibawah atap, dan belum naek angkot untuk ke kampus. Adem ayemlah pokoknya. Kabar kurang baiknya keadaan adem ayem tadi gak bakal bertahan lama lagi. Ogik tau mama sama papa sedang banting tulang untuk membiayai pendidikan kami berdua. Belum lagi keperluan rumah tangga di sana beserta segala tetek bengeknya. Belum lagi keadaan Adik yang sering kambuh-kambuhan yang pastinya membutuhkan pengobatan.
Tapi rumah keluarga besar kita yang dititipkan kepada Ogik membutuhkan pengeluaran yang besar. Listrik, air, dan uang keamanan komplek untuk bulan ini belum dibayar. Begitu pula dengan mobil yang dipaketkan beserta rumah tersebut, memerlukan perawatan yang rutin. Sementara empunya mobil seakakn-akan cuek dengan kesulitan ini. Padahal jika mobil itu rusak karena tidak terawat yang kembali di salahkan pastilah Ogik.
Dear mama, Ogik sebenarnya malu untuk merengek-rengek soal keuangan. Ditambah lagi mama sudah dua kali men-transfer uang bulan ini. Tapi untuk menegaskan lagi, bahwa kiriman kedua kemarin sepenuhnya digunakan untuk pembayaran biaya kuliah. Memang banyak orang bilang bahwa hidup di Jogja itu murah, tapi pendidikan di sini termasuk mahal bagi keluarga kita. Dan yang paling membuat kantong mama dan papa bocor ialah gaya hidup anakmu ini yang terlalu, bahkan selalu, mengikuti hawa nafsu. Tinggal di kota besar ternyata banyak godaannya. Dan terkadang godaan tersebut Ogik anggap sebagai kebutuhan. Ogik mulai terjebak dalam gaya hidup hedonis tanpa memikirkan keadaan mama yang bersusah payah memeras keringat di sana.
Sempat terpikir, apa tujuan Ogik di sini hanya untuk bersenang-senang? Untuk apa kuliah jauh-jauh di Jogja kalo ternyata menyusahkan mama dan papa? Dan tengoklah apa yang Ogik dapat sekarang. Selain kesulitan secara finansial, Ogik juga merasa depresi, sedih, dan cemas karena sudah hampir sebulan ini baik mama atopun papa tidak lagi menelpon. Mungkin mama dan papa sedang sibuk, tapi apa perlu sibuk berminggu-minggu tanpa memikirkan anak kalian yang menyusahkan ini?
Ogik harap sesampainya surat ini di tangan mama, mama akan meluangkan waktunya untuk sekedar nelpon ke Jogja dan mendengarkan keluh kesah dari Ogik. Minimal mama sudi untuk membalas surat ini.

Salam rindu anakmu

1 komentar: