Kamis, 15 Januari 2009

ANTI-FAGGOT

Hingga pukul 08.54 aku masih terbaring diatas busa yang panjangnya hanya sedikit lebih panjang dari tubuhku. Matahari pagi menujukkan permusuhannya dengan diriku. Dari jendela kamar dapat kurasakan seringainya mempengaruhiku untuk berdiri, meregangkan tubuh dan keluar dari persembunyiaanku.
Sambil menuju ruang TV aku raih dan pandangi dalam-dalam layar ponsel. Masih tidak ada kabar darinya, tidak ada SMS, missed call ataupun pertanda lain yang mengisyaratkan dia masih peduli. Terakhir kali Sonya menelpon hanya untuk mencampakkan aku. “Kita tak bisa terus-terusan begini,” ujarnya kala itu, “Aku memilih Andy,” tutupnya. Aku tak habis pikir apa yang Sonya lihat dari Andy. Terlepas dari kenyataan bahwa dia ganteng dan kaya, Andi adalah salah satu alas an mengapa kiamat semakin dekat. Dia berjalan dengan gemulai, berbicara halus dan lembut, dan tak pernah lupa pergi ke salon dua kali seminggu. Pakaiannya selalu membuatku ingin muntah. Skinny jeans, kemeja dengan dada terbuka atau terkadang kaos oblong yang super junkies yang selalu dipadankan dengan syal atau rompi. Semuanya terlihat matching dengan warna yang menarik, sekalipun ada di taman bunga dia tetap terlihat menonjol dengan warna yang mengalahkan bunga-bunga yang ada di taman.
Banyak orang, termasuk Sonya tentunya, menganggap Andy adalah seorang yang metroseksual. Sebuah kedok pria centil untuk memenuhi hasratnya agar secantik wanita. Bagiku Andy tak lebih dari seorang banci kaleng! He’s a total faggot. “Aku kasihan padamu Sonya,” ujarku saat meletakkan kembali ponsel keatas meja.
Apa yang di tawarkan TV hari ini? Pertanyaan itu membangkitkan keinginanku utnuk mengeluarkan kotak yang memiliki kaca tersebut. Dari sebuah saluran TV khusus berita seorang wanita cantik sibuk mempromosikan apartment di tengah Jakarta. “The Residences menawarkan kemewahan dan keeksklusifan bagi anda.” ujar wanita itu. “Kemewahan,”dan “Keekslusifan!” Dua kata yang membuat telingaku alergi selain kata “Gaul.” Itulah yang terjadi di Negara miskin kita ini. Kekayaan dan pangkat selalu menjadi patokan. Dan jika sudah kaya, para konglomerat ini tidak mau lagi berbaur dengan para kolor-melarat. Sehingga mereka lebih memilih tinggal di tempat yang mewah dan eksklusif. Channel berita ini jelas sekali sudah gagal dalam fungsinya sebagai media masyarakat luas. Channel ini telah menggali jurang pemisah yang sudah dalam antara si kaya dan si miskin dengan menjadi media masyarakat kaya.
Sebelum terpengaruh dengan doktrin mewah dan eksklusif dengan segera aku menekan tombol di remote utnuk mencari acara yang lebih wajar dibandingkan acara yang menawarkan mimpi memiliki apartment seharga milyaran rupiah itu.
Sebuah game show yang pesertanya banyak dengan konsep panggung layaknya belantara rimba menarik perhatianku. Ornamen-ornamen hutan buatan seperti pohon dan semak belukar menghiasi set game tersebut. Tak ketinggalan pula mascot game tersebut yaitu si Kera. Namun ketertarikanku berubah menjadi kegelian ketika Irfan dan Robin, host game tersebut, memasuki arena permainan. Sosok Irfan yang tinggi besar seketika runtuh saat dia berlenggak-lenggok ke panggung. Dia mengenakan kostum layaknya Tarzan dengan sepatu hak tinggi, lipstick, bulu mata palsu, dan bedak tebal. Robin tak mau kalah dengan dandanan yang serupa dan tak henti-hentinya ia menyunggingkan senyum sok kewanitaannya itu.
“Selamat pagiiiiiii……” mereka serentak melafalkannya, suaranya cempreng dan sama sekali tidak menunjukan bahwa mereka punya “bola”. Seketika itu juga aku beralih ke channel lain.
Infotainment atau apalah namanya, itulah yang kusaksikan saat ini. Cukup lama juga aku tidak memperhatikan berita dari selebriti Indonesia. Walaupun sebenarnya sudah dapat ditebak, jika bukan tentang artis muda yang baru merajut cinta, pasti akan muncul berita artis yang bercerai. Tapi pagi ini acara ini sangat nyeleneh, “Surat cinta Krishna Bekti kepada kekasihnya bocor ke media.” Lanjut pembawa acara itu, “yang mebuat heboh, ternyata kekasih Krishna itu adalah lelaki bernama Adi.”
Harus aku akui sejak Irfan dan Robin memandu acara TV yang hit, banyak sekali para banci yang muncul ke permukaan. Seakan-akan sudah ada pembenaran akan status mereka karena ketenaran Irfan dan Robin. Dan berita Khrisna ini mungkin merupakan gebrakan baru bagi homoseksual di Indonesia. Mereka tak malu-malu lagi menunjukan kelainan orientasi seks mereka.
Saat aku mengganti channel TV, aku menyaksikan acar talkshow yang dulunya sangat aku gandrungi. Yang mereka bicarakan selalu hal-hal ringan dan menarik. Tetapi pada saat acara tersebut mengganti host nya menjadi Holga, tiba-tiba saja selera menontonku hilang.
Apakah Negara kita ini akan menjado Faggot Nation? Ingin rasanya kau menyadarkan para banci-banci itu indahnya hidup sebagai laki-laki: merokok seenaknya, walaupun banci juga merokok, berpakaian seadanya, tidak perlu bersolek, berbicara kasar, mendapat perhatian dari wanita dan bercinta pada malam harinya. Sungguh rugi para banci-banci itu. Namun merebaknya kasus Royan mengurungkan niatku. “ Daripada mati sia-sia dalam potongan, lebih baik aku menikmati hidup.” Ujarku suatu ketika kepada teman yang juga anti faggot.
Sepuluh menit sebelum pukul 10.00 aku telah berada di tempat kerjaku. Sebelum aku memberitahu pekerjaanku dan dimana aku bekerja, aku ingin menegaskan bahwa apa yang aku katakana dan segala unek-unek tadi adalah sungguh-sungguh. Tidak ada keraguan dan kemunafika di dalamnya.
Saat aku mengambil senjata utamaku dalam bekerja yaitu pel dan ember seseorang mencolek pinggulku. “Eh, cepetan donk, nek!”dengan cempreng ia berkata, “ Pelanggan eke udah pada mau datang, bo!” dengan mata yang melotot dan muka kesal aku melengos pergi sambil mengatakan, “Ya!!” Banci tadi adalah pemilik tempat aku bekerja. Walaupun menjadi Cleaning Service haru disyukuri namun aku mengutuk pekerjaanku karena salon tersebut merupakan sarang banci se-Jakarta.

1 komentar: